Usir Corona dengan Tetek Melek
TULUNGAGUNG – Tradisi
masyarakat Tulungagung untuk menangkal dan mengusir wabah Corona sangat
unik, dengan memasang tetek melek di depan rumah mereka. Yang dinilai mampu mengusir
wabah dan menjaga keselamatan keluarga dirumah dari petaka.
Keberagaman suku dan budaya nusantara melahirkan
banyak nilai kearifan budaya lokal yang beragam, seperti yang dilakukan oleh
masyarakat kecamatan Boyolangu, Campurdarat, Bandung dan sekitarnya. Kesenian
dan keunikan yang dilakukan masyarakat Tulungagung tersebut bukan suatu hal
yang baru, budaya ini lahir dari nenek moyang terdahulu dan mulai dihidupkan kembali
ketika ada wabah atau masyarakat setempat menyebutnya pagebluk.
Dalam bahasa Jawa kuno,
Pagebluk merupakan sebutan untuk wabah penyakit berbahaya yang mengancam
keselamatan manusia. Biasanya bahasa ini digunakan untuk menggambarkan ancaman
penyakit yang berkaitan dengan hal-hal spiritual. Dengan memasang tetek melek
di depan rumah atau di pagar rumah warga diyakini mampu mengusir pagebluk bagi
masyarakat setempat.
Wujud lukisan tetek melek
hampir mirip dengan topeng barongan bagi masyarakat Bali, hanya saja bahan yang
digunakan berbeda. Tetek melek pada masyarakat setempat terbuat dari pangkal pelepah
kelapa atau yang sering disebut (bongkok). Yang kemudian dilukis dengan cat
kayu menyerupai topeng barongan. Dahulu sebelum adanya cat, masyarakat
membuatnya dengan gamping (warna putih) yang kemudian dibentuk atau digambar
dengan arang (warna hitam) dan dipasang pada teras rumah.
Filosofi tetek melek
bersal dari dua kata “thethek” (teteg) yang artinya Tangguh dan “melek” yang
artinya waspada. Lalu pelepah kelapa (bongkok) diartikan sebagai pasrah kepada
yang maha kuasa. “Kebudayaan ini ada sejak Zaman Majapahit, tapi bukan
peninggalan Majapahit” ujar Srini (70 tahun) sesepuh desa saat diwawancarai
nusadaily.
Kebudayaan ini juga sama
seperti Arca Dwarapala atau yang sering disebut Reco Pentung. Yang murni
kesenian warga Tulungagung yang dimaknai untuk mengusir dan menjauhkan dari
malapetaka.
Tradisi ini juga selalu
dikaitkan dengan nilai agama islam, meski banyak yang menilai dengan ajaran
dinamisme dan kemusyrikan. Namun topeng ini bukan sembarang topeng, sebab dalam
pembuatannya memerlukan kesucian bagi pembuatnya. “Kalo mau buat harus wudhu,
kalo batal ya wudhu lagi. Keadaan harus tetap suci” ujar Srini.
Hal yang serupa juga
dialaminya saat masih kecil. Dahulu saat ada pagebluk para sesepuh desanya juga
memasang tetek melek di depan rumah. Dan pada tahun ini juga dihidupkan
Kembali, ujarnya. Meski terlihat aneh dan menyeramkan, namun itu adalah
kebudayaan dan tradisi yang harus dilestarikan dan dikenalkan kepada anak cucu,
tambahnya.
Tetek melek hanyalah simbol
sebuah kebudayaan daerah yang kaya makna, kemudian direpresentasikan untuk
menjaga dan menyelamatkan masyarakat dari bahaya. Namun kebudayaan ini bukan
untuk sesembahan dan hal negatif yang
merusak keimanan.
Kendati demikian,
kebudayaan tetek melek tidak 100% mampu menghilangkan wabah corona dari daerah
tersebut. Hanya saja ini menjadi sebuah rambu-rambu/tanda untuk selalu waspada
dengan selalu mendekatkan diri pada yang maha kuasa.
“Berhasil atau tidak
untuk mengusir corona itu semua diserahkan pada yang maha kuasa. Yang terpenting
kita tetap berdoa dan selalu waspada”, lanjutnya. Srini dan masyarakat berharap
agar wabah ini segera berakhir dan semua diberikan keselamatan dan Kesehatan.
Abdillah Addin Nadean
B91219080
JR 3
Komentar
Posting Komentar