Tantangan Jurnalis di Istana Negara Workshop Jurnalistik: Proses Produksi dan Desain Media Cetak
Surabaya, 03 November 2021- “Proses produksi Berita dan Desain Media Cetak” merupakan tema yang diusung oleh Workshop Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Prodi Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Acara ini berlangsung pada Hari Kamis, 28 Oktober 2021 kemarin secara daring melalui zoom dengan menghadirkan narasumber yang ahli pada bidangnya seperti Bayu Putra yang merupakan Asisten Redaktur Jawa Pos yang berpengalaman sebagai jurnalis di Istana Negara.
Dalam
workshop jurnalistik yang diselenggarakan kemarin terdapat materi pertama yang berjudul “Hari-hari Bersama Presiden: Kisah
Liputan Jurnalis Media Cetak” yang disampaikan sendiri oleh seorang jurnalis
Istana Negara yaitu Bayu Putra. Beliau menyampaikan kisah suka duka yang meliputi
aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh para jurnalis hingga tantangan seorang
jurnalis Istana Negara.
Diawal pengantar presentasinya, Bayu menyampaikan bahwa dalam penulisan berita
yang sangat dinamis yaitu dibagian pencarian berita, ia juga mengibaratkan jurnalis itu seperti koki yang
bertugas memasak dan juga belanja yang diibaratkan mencari berita. Perumpamaanya
jika seorang jurnalis belanja (mencari berita) yang tidak pas dan tidak
nyambung akan menghasilkan masakan (berita) yang tidak berkualitas, maka untuk
mendapatkan belanjaan yang baik dengan cara yang bermacam-macam yakni salah
satunya yang telah dialaminya selama menjadi jurnalis di Istana.
Bayu menyampaikan tantangan liputan di Istana salah satunya yaitu harus cepat memahami semua bidang yang menjadi urusan negara. “Istana ini adalah muara dari segala isu dan semua bidang yang diurusi di Istana negara, mulai dari olahraga, politik, kesejahteraan rakyat, sosial, ekonomi, dsb. Semua muara dilaporkan ke Istana dan dibahas dalam rapat-rapat kabinet, kami yang juga meliput di Istana juga harus menyesuaikan diri dan cepat paham atas semua bidang yang menjadi urusan negara”, pungkas Bayu.
Tantangan liputan di Istana yang kedua yaitu fisik, mereka diharuskan lari ketika mengetahui konferensi pers dadakan, hal ini mendesak para jurnalis untuk segera menuju ke kompleks Istana. Bayu juga menyampaikan bahwa para wartawan harus bisa mempertahankan posisi wawancara doorstop yang termasuk tantangan dalam proses mendapatkan beritanya,
Komentar
Posting Komentar