Masih Mampu Bekerja dan Berpenghasilan, Tanpa Harus Mengemis
Sidoarjo - Seorang laki-laki berdiri
persis di persimpangan lampu merah Medaeng Waru, Sidoarjo. Ia mendadani dirinya
seperti patung, tubuhnya diwarnai abu-abu. Ia diam saja, mematung. Pada bagian
depannya ada kotak yang berfungsi sebagai wadah uang. Ia memilih menjadi patung
hidup karena ada keinginan dari hati nurani untuk lebih melestarikan budaya,
hiburan dan keunikan tersendiri. Layaknya patung, manusia patung tidak akan
berbicara atau bergerak saat wisatawan berfoto bersama mereka. Warga mungkin sudah
tidak asing lagi dengan keberadaan manusia silver yang sering muncul di berbagai
titik di persimpangan lampu merah. Sosok manusia silver tersebut
biasanya terlihat paruh baya. Yang pasti, kehadirannya sering diiringi dengan
aksi street performance. Ada yang menyanyi, juga
baca puisi.
Masih banyak lagi manusia-manusia silver lain
di berbagai penjuru kota. Mereka semua menggunakan racikan cat yang serupa di
sekujur tubuh mereka. Cat tersebut adalah cat sablon yang dicampur dengan
minyak tanah atau minyak goreng. Jika menggunakan minyak tanah, warnanya akan
terlihat lebih terang, sementara minyak goreng akan membuat cat tersebut lebih
gelap. Rasio campurannya sekitar 50:50. Jika dibalurkan ke tubuh, cat tersebut
bisa luntur karena meleleh akibat paparan sinar matahari. Karena itu,
para manusia silver harus berkali-kali melumurkan
cat tersebut dalam satu hari. Supaya bisa dibersihkan, cat tersebut tak bisa
hilang dengan sabun mandi. Perlu sabun cuci piring atau detergen untuk melunturkan lumuran cat tersebut.
Para manusia silver tersebut juga tak jarang harus
menggosok tubuhnya dengan plastik. Setelah mandi dengan sabun cuci piring atau
deterjen, para manusia silver baru bisa mandi dengan sabun biasa.
Hanya mengandalkan
pekerjaan sebagai manusia patung untuk menghidupi keluarganya dan membiayai
sekolah anak-anak mereka. Pendapatannya di setiap harinya memang tidak tentu.
Hal itu tergantung dengan jumlah pengendara yang berlalu lalang. Terkadang
masih banyak dari orang-orang terkadang tidak melihat sisi kreatif dan uniknya.
Mereka juga memiliki kotak untuk diisi dengan uang bagi pengendara yang merasa
tertarik dengan penampilan mereka.
Berbicara
mengenai suka dan duka yang dirasakannya selama bekerja, mereka dengan penuh
keyakinan bahwa dirinya tak pernah merasakan malu dalam menjalankan
pekerjaannya ini. “Kami dan kebanyakan teman-teman di sini yang jelas tidak
merasa malu sama sekali. Toh, karena ini nyatanya kami mampu memiliki
penghasilan tanpa harus mengemis. Kami sangat mencintai pekerjaan kami. Biarlah
mereka yang memandang kami sebelah mata, atau menertawakan pekerjaan kami
menjadi hiburan untuk kami saja.” jelas pria itu. ”Kalau soal duka, mungkin
lebih kepada kondisi cuaca yang terkadang bisa sangat panas, sampai benar-benar
menyengat. Terkadang juga bisa saja turun hujan deras, dan kami tidak mungkin
menyerah begitu saja. Jadi, kami tetap berdandan seperti biasanya, dan berpindah
ke tempat yang indoor. Hanya dengan cara itu, kami tetap bisa bekerja
tanpa harus menyerah dengan keadaan cuaca.” Tambahnya.
Oleh
: Indar Mugi (B01219019)
Komentar
Posting Komentar