DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

 

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Mata Kuliah DMKLB



Dosen Pengampu:

Abu Amar Bustomi, M.Si

Disusun Oleh :

Alfina Nurhayati (B71219059)

     

 

Program Studi

Komunikasi Penyiaran Islam

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

2021

 

 

 

Puji syukur atas kehadirat allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas DMKLB yang berjudul Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya ini pada tepat waktu. Adapun tujuan dari penulisan dari buku ini adalah untuk memenuhi tugas Bapak Abu Amar Bustomi, M.Si pada bidang DMKLB. Selain itu, Buku ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang dakwah antar budaya bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Abu Amar Bustomi, M.Si selaku dosen yang telah memberikan tugas ini serta kepada semua pihak yang telah membagi pengetahuan sehingga dapat menambah wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni serta dapat menyelesaikan makalah ini.

Saya menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang kami butuhkan untuk kesempurnaan buku ini.

         Surabaya, 22 Juni 2021

 

Penulis


 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. 2

DAFTAR ISI. 3

BAB I PEMBAHASAN.. 4

A. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP DAKWAH ANTAR BUDAYA   4

B. BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL   7

C. TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI   ANTARBUDAYA   11

D. DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS, BANGSA   15

E. DAKWAH DALAM KAJIAN POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA ………………………………………18

F.. AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA VERBAL DAN NON VERBAL DALAM ILMU DAKWAH.. 24

G. HAMBATAN DALAM PROSES KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA   27

H. BUDAYA & KEARIFAN DAKWAH.. 30

BAB II PENUTUP.. 33

A. KESIMPULAN.. 33

DAFTAR PUSTAKA.. 34

 

 

 

BAB I

PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP DAKWAH ANTAR BUDAYA

1.      Pengertian Dakwah Antar Budaya

Ditinjau dari segi etimologis, dakwah berasal dari bahasa arab “Da’wah” yang terdiri dari kata da’a, yad’u dan da’watan yang berarti panggilan, ajakan, seruan.  Sedangkan secara terminologis, Syaikh Ali Mahfudz dalam kitabnya Hidayat Al- Mursyidin mendefinisikan dakwah sebagai motifasi manusia untuk berbuat kebajikan, mengikuti petunjuk, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan menurut Toha Yahya Oemar, beliau mengatakan bahwa dakwah adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah tuhan untuk kemaslahatan  dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

 

Adapun budaya berarti suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya pada dasarnya merupakan nilai nilai yang muncul dari proses interaksi antar individu. Nilai nilai ini diakui, baik secara langsung maupun tidak, seiring dengan waktu yang dilalui tersebut. Bahkan kadang sebuah nilai tersebut berlangsung dibawah alam bawah sadar individu dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan, dengan tetap terpeliharanya situasi damai (Aripudin, 2012. 25). Dakwah antar budaya juga bisa diartikan sebagai seruan pesan-pesan Islam yang disampaikan oleh seorang da‟i  kepada seseorang atau kelompok masyarakat tertentu yang berbeda latar belakang tradisi dan budayanya. Dengan keberhasilan dakwah antarbudaya  sangat dipengaruhi oleh seberapa besar kemampuan seorang da‟i dalam melakukan pendekatan-pendekatan budaya dimana kegiatan dakwah itu dilakukan. Karena fakta membuktikan bahwa salah satu strategi dakwah yang sedang berkembang dan dianggap lebih ramah adalah strategi dakwah antarbudaya. Dimana dakwah yang damai dengan mengedepankan pendekatan-pendekatan budaya senantiasa menjadi pegangan setiap da‟i. Sehingga kegiatan dakwah yang dilakukan tidak menimbulkan gesekan dan pertentangan dari masyarakat yang menjadi mad’unya.

Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah mengajak seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama Islam dan perilaku Islami sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di masyarakat. Hakikat dakwah antar budaya itu bagaimana kita dalam berdakwah, menggunakan budaya sebagai materi, metode, alat, dan strategi sesuai dengan kondisi budaya sasaran dakwah (mad’u). Karena setiap orang, setiap tempat wilayah dan lingkungan mempunyai kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Maka dalam pendekatannya pun berbeda pula.

Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi :

a. Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda latarbelakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.

b. Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, materi, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.

c. Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.

d. Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masingmasing etnis.

e. Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing (Aripudin, 2012. 55-56 ).

Pendekatan multikultural merupakan upaya memberi dukungan moral dan legislatif atas budaya demokrasi. Dalam ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural daripada harakah. Dakwah berbasis multikultural kurang sepaham dengan dakwah mengedepankan Islam sebagai manhaj hayah dan Islam Add-in Dunya dan Daulah. Dakwah yang menggunakan pendekatan kultural maka akan mengedepankan strategi sosialisasi Islam sebagai integral umat. Oleh karna itu dengan adanya keberagaman dan perbedaan maka umat dituntut agar berlomba-lomba dalam kebaikan yang nantinya mengakibatkan peningkatan kreativitas juga kualitas hidup umat manusia dalam berbagai aspek.

2. Basis Dakwah Multikutural

Multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Kita dapat melihat beberapa ayat berikut, sebagai basis dakwah multikultural.

QS. Al-Hujarat: 13 “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal”.

Ayat di atas menekankan perlunya saling-mengenal. Perkenalan itu dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman pihak lain, guna meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan kesejahteraan hidup duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. Anda tidak dapat menarik pelajaran, tidak dapat saling melengkapi dan menarik manfaat bahkan tidak dapat bekerja sama tanpa saling kenal-mengenal.

Secara global, ayat ini ditujukan kepada umat manusia seluruhnya, tak hanya kaum muslim. Sebagai manusia, ia diturunkan dari sepasang suami-istri. Suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan saja, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Dihadapan Allah mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda suku, ras, dan bangsanya supaya saling mengenal. Melalui perkenalan itu mereka saling belajar, saling memahami, saling mengerti dan saling memperoleh manfaat, baik moril maupun materiil. Perkenalan itu niscaya menginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

 

3.      Pendekatan Dakwah Multikultural

 

a.        Pendekatan dakwah multikultural menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal, dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal. Berbeda dengan dakwah konvensional yang menempatkan konversi iman sebagai bagian inti dari dakwah, pendekatan dakwah multikultural menilai bahwa dakwah tidak lagi secara eksplisit dimaksudkan untuk mengislamkan umat non muslimpendekatan dakwah multikultural, seperti dinyatakan menilai fenomena konversi non muslim menjadi muslim adalah efek samping dari tujuan dakwah, dan bukan tujuan utama dari dakwah itu sendiri.

b.   Pendekatan dakwah multikultural berusaha memberi dukungan moral dan legislatif atas budaya politik demokrasi. Dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas. Tujuan ini dimaksudkan agar seluruh kelompok etnis dan keyakinan mendapat pengakuan legal dari negara dari satu aspek, dan bebasnya penindasan atas nama dominasi mayoritas dari aspek yang lain. Melalui budaya demokrasi ini, dakwah multikultural berusaha agar kebijakan atau produk politik yang bias etno-religius dapat dieliminasi dan digantikan dengan kebijakan-kebijakan politik yang ramah dan peka terhadap keragaman etnis dan keyakinan masyarakat.

c.    Dalam ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy). Pendekatan multikultural sejatinya merupakan kelanjutan dari pendekatan dakwah kultural dengan perbedaan pada tingkat keragaman dan pluralitasnya. Dalam masyarakat multikultural, sepanjang terbebas dari kepentingan politik, keragaman keyakinan dan budaya itu sesungguhnya merupakan fakta yang dapat diterima oleh semua pihak. 

d.  Dalam konteks pergaulan global, dakwah multikultural menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding). Dalam merespons fenomena globalisasi yang sedikit demi sedikit menghapus sekat-sekat antar-budaya dan agama sekarang ini, dakwah multikultural, seperti diusulkan Mulkan, merasa perlu membangun “etika global” yang digali dari sumber etika kemanusiaan universal yang terdapat dalam seluruh ajaran agama. Untuk tujuan tersebut, pendekatan dakwah multikultural melalui agendanya, antara lain dengan menafsir ulang sejumlah teks-teks keagamaan yang bias eksklusivisme, misalnya dengan metode hermeneutika.

e.  Terkait dengan pendekatan seperti ini dalam poin keempat, para penggagas dakwah multikultural, merasa perlu untuk menyegarkan kembali pehamaman doktrin-doktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural. Doktrin-doktrin Islam klasik seperti termodifikasi dalam kitab-kitab yang sampai kepada kita sekarang ini adalah sebuah penafsiran Islam, dan bukan Islam itu sendiri. Karena ini, ia tidak tertutup tetapi terbuka untuk dikritisi dan ditafsir ulang. Penafsiran baru ajaran Islam itu harus berimbang, berpijak dari orisinalitas tradisi di satu pihak, tetapi harus terbuka kepada ide-ide perkembangan keilmuan kontemporer di pihak lain.

 

1.      Fungsi Komunikasi Antarbudaya

Dalam proses komunikasi antarbudaya ini, terdapat fungsi dan tujuan di dalamnya. Sebagaimana dinyatakan Alo Liliweri, yaitu fungsi komunikasi antar budaya dibagi menjadi 2 macam yaitu fungsi pribadi dan fungus sosial, antara lain:

 

a. Fungsi Pribadi

Fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu.

1).  Menyatakan Identitas Sosial, dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial.

2).  Menyatakan Intergrasi Sosial, menerima kesatuan dan persatuan antar pribadi, antar kelompok. Namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Dalam kasus komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi.

3).  Menambah Pengetahuan, komunikasi antarpribadi maupun komunikasi antarbudaya menambah pengetahuan bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing.

4).    Melepaskan Diri atau Jalan Keluar, berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencari jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi. Pilihan komunikasi seperti itu dinamakan komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan komplementer dan hubungan yang simetris.

b. Fungsi Sosial

1). Pengawasan

Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan “perkembangan” tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarluaskan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.  

2). Menjembatani

Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama

3).  Sosialisasi nilai

Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain

4). Menghibur

Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya untuk mewarnai dalam kegiatan komunikasi antar budaya.

2.     Tujuan Komunikasi Antarbudaya

               Tujuan dari komunikasi antarbudaya menurut Suranto Aw adalah untuk mengantarkan kepada suatu kompetensi pengetahuan bahwa perbedaan latar belakang sosial budaya dapat mengakibatkan kurang efektifnya proses komunikasi. Tidak hanya menekankan bagaimana orang yang saling berbeda latar belakang sosial budaya dalam berbicara, tetapi bagaimana mereka bertindak antarorang dan bagaimana mereka mengikuti aturan-aturan terselubung yang mengatur perilaku anggota masyarakat yang memiliki aturan nilai sosial dan budaya saling beda.  Tujuan tersebut antara lain;

a). Memahami bagaimana perbedaan latar belakang budaya mempengaruhi praktik komunikasi.

b). Mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang muncul dalam komunikasi antarbudaya.

c). Meningkatkan keterampilan verbal dan nonverbal dalam berkomunikasi.

d). Menjadikan komunikator mampu berkomunikasi efektif.

3.  Peranan Komunikasi Antarbudaya

Komunikasi antar budaya sering terdengar sulit untuk dilakukan. Karena kebudayaan atau pola hidup mereka yang berbeda akan membuat kesalahpahaman di antara kedua individu. Sehingga, perlu adanya sesuatu yang dapat menurunkan tingkat kesalahpahaman di antara kedua individu agar tidak terjadi pertikaian. Hal itu dapat ditemukan pada bahasa baik verbal maupun nonverbal.

Peranan bahasa saat ini merupakan alat yang sangat berperan penting dalam komunikasi antarbudaya. Contohnya, orang pesisir yang memiliki pola hidup keras kerap kali berbicara dengan kencang, sehingga dapat membuat orang salah mengartikan. Dikiranya orang tersebut sedang marah-marah, padahal sebenarnya tidak. Sehingga, keberadaan bahasa di sinilah diperlukan. Dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa kebangsaan, maka kesalahpahaman akan menurun dan perlahan menghilang. Karena, bahasa sendiri yang dapat memilah mana marah, mana senang, dan mana yang sedih. dan juga, bahasa merupakan simbolik dari rasa.

D. DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS DAN BANGSA

1.      Pengertian Etnik, Ras, dan Bangsa

Etnis atau Kelompok etnik atau juga suku bangsa merupakan golongan manusia yang kelompoknya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, umumnya dengan dasar garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku ditandai oleh pengakuan dari orang lain dan ciri dari kelompok itu sendiri contohnya kesamaan budaya, agama, bahasa, perilaku, serta ciri dari biologis. Istilah Ras bahasa Inggrisnya adalah Race. Coakley (2001:243) berpendapat bahwa “Race refers to a category of people regarded as socially distinct because hey share genetically transmitted traits believed to be important by people with power and influence in a society”. Artinya bahwa, ras menunjuk pada kelompok orang yang dipandang berbeda secara sosial karena mereka membagi sifat-sifat yang disalurkan secara genetik dipercaya menjadi penting oleh orang dengan kekuatan dan berpengaruh dalam masyarakat.

Etnis berbeda dengan pengertian ras. , istilah etnis menjadi sebuah kata yang tepat untuk memandang orang dari berbagai asal-usul. Lebih lanjut diungkapkan pula bahwa etnis mungkin dipertimbangkan dalam istilah kelompok apapun yang didefinisikan atau disusun oleh asal-usul budaya, agama, nasional atau beberapa kombinasi dari kategori-kategori tersebut (Maguire, et al, 2002:134). Pengertian-pengertian etnis membentuk pengertian kelompok etnis. Kelompok etnis merupakan sebuah kategori orang yang berbeda secara sosial karena mereka membagi sebuah jalan kehidupan dan komitmen pada segala sesuatu cita-cita, norma-norma, dan meteril yang terdapat pada jalan kehidupan itu (Coakley, 2001:143).

 

2.   Dakwah dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras, dan Bangsa

Komunikasi antar  budaya adalah proses komunikasi diantara dua latar belakang budaya yang berbeda. Dalam konnteks secara luas, diartikan sebagai antar budaya bangsa, suku, dan ras. Dalam konteks individu diartikan sebagai komunikasi antar dua orang yang memiliki perbedaan kebiasaan. Dakwah dalam komunikasi antar budaya ini rawan konflik karena sering terjadi salah paham atau salah persepsi dan kurangnya toleransi yang ditanamkan kepada semua orang agar dapat menerima perbedaan tersebut.

 

3.  Komunikasi dalam Bentuk Disiplin Ilmu

a. Komunikasi Politik, proses komunikasi oleh dua orang atau lebih yang berada pada lingkup politik.

b. Komunikasi Kesehatan, proses komunikasi dalam dunia medis.

c. Komunikasi Terapetik, proses komunikasi antara terapis dan pasien.

d.  Komunikasi Dakwah, proses komunikasi antara da’i dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada sasaran dakwah atau yang seirng disebut mad’u.

e.    Komunikasi Krisis dan Bencana, proses komunikasi dalam menghadapi dan menanggulangi krisis dan bencana

f.    Komunikasi Transendental, bentuk komunikasi yang jarang dipelajari secara eksplisit atau textbook ilmu komunikasi. Proses komunikasi yang terjadi antara manusia (hamba) dengan Tuhannya, komunikasi ini bersifat satu arah. Contoh, sembahyang, sholat, dan berdoa.

g.   Komunikasi Spiritual, proses komunikasi pada tahap yang lebih tinggi yaitu untuk mencapai konektifitas yang sulit dengan sanng pencipta dan ciptaannya yang lain.

 

 

1.   Pengertian Pola Komunikasi Lintas Budaya

Pola komunikasi merupakan serangkaian dua kata. Karena keduanya mempunyai keterkaitan makna sehingga mendukung dengan makna lainnya. Maka lebih jelasnya dua kata tersebut akan diuraikan tentang penjelasannya masing-masing. Kata “pola” dalam kamus besar Bahasa Indonesia artinya bentuk atau sistem, cara atau bentuk (struktur) yang tetap, yang mana pola dapat dikatakan contoh atau cetakan.

Pola dapat dikatakan juga dengan model, yaitu cara untuk menunjukkan sebuah objek yang mengandung kompleksitas proses didalamnya dan hubungan antara unsur-unsur pendukungnya.Menurut Little Jhon, model dapat diterapkan pada setiap representasi simbolik dari suatu benda. Sebelum kita mengetahui bentuk sebuah pola komunikasi apa yang diterapkan dalam sebuah komunitas baik secara individu maupun organisasi, maka kita perlu melihat proses komunikasinya, karena pola komunikasi tersebut terlahir dari berbagai proses komunikasi sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan, karena menjadi sebuah kesatuan.

 Menurut Onong Uchjana Effendy, proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yaitu primer dan sekunder.

a.       Proses Komunikasi Primer

          Proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. komunikator kepada komunikan. Pertama-tama komunikator menyandi (encode) pesan yang disampaikan kepada komunikan, ini berarti ia memformulasikan pikiran atau perasaannya ke dalam bahasa yang diperkirakan akan dimengerti oleh komunikan.

b. Proses Komunikasi Sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah mamakai lambang sebagai media penama. Seperti yang telah diterangkan di atas pada umumnya bahasa yang banyak digunakan dalam komunikasi karena bahasa sebagai lambang mampu mentransmisikan pikiran, ide, pendapat dan sebagainya, baik mengenai hal yang abstrak maupun yang konkrit.

2. Prinsip Komunikasi Lintas Budaya                                           

a. Relativitas Bahasa

Menurut Benjamin Lee whorf & Edward sapir, bahasa mempengaruhi pemikiran perilaku, karakteristik bahasa mempengaruhi proses kognitif seseorang. Karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya. Maka orang yang  menggunakan bahasa yang berbeda akan memandang dan berpikir tentang dunia dalam cara berbeda.  

b. Bahasa sebagai cermin budaya.

Makin besar perbedaan budaya, makin besar perbedaan komunikasi baik dalam bahasa verbal atau non verbal. Artinya semakin sulit komunikasi dilakukan. Oleh karena itu, harus peka terhadap hambatan komunikasi lintas budaya. 

c.. Mengurangi ketidakpastian.

 Makin besar budaya makin besar ketidakpastian dan ambiguitas dalam komunikasi. 

d. Kesadaran diri dari perbedaan antar budaya.

Makin besar perbedaan budaya, makin besar kesadaran diri para partisipan komunikasi sehingga menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.

1). Positif, membuat waspada, mencegah mengatakan hal yang tidak patut.

2). Negatif, terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri. 

e. Interaksi awal dan perbedaan antar budaya.

Interaksi awal yang tidak efektif dalam komunikasi lintas budaya akan berangsur berkurang seiring bertambahnya keakraban, untuk itu cobalah hindari menilai orang lain secara tergesa-gesa dan permanen apalagi hanya didasarkan pada informasi yang terbatas.

f. Meaksimalkan hasil interaksi.

1). Orang akan berinteraksi dengan mereka yang memberikan hasil yang positif.

2). Berusaha memperoleh keuntungan.

3). Membuat prediksi tentang perilaku seseorang yang akan memberikan hasil positif.

4). Seseorang harus melibatkan hasil yang positif yang melibatkan diri dan meningkatkan intensitas komunikasi.

 

3.   Identifikasi Kajian Psikologis Lintas Budaya

Psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya. Sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan sosial budaya. Kajian ini mencakup suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologis umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal.

Adapun model pendekatan yang dipelari yaitu:

a)       Pendekatan evolusi,

Model teoritis yang mengeksplorasi bagaimana faktor evolusi memengaruhi perilaku manusia, dan karenanya meletakkan dasar natural bagi kultur manusia.

b). Pendekatan sosial

Fokus pada struktur sosial yang luas yang memengaruhi masyarakat secara keseluruhan dan individunya.

c). Pendekatan Ekokultural.

Individu tidak bisa dipisahkan dari konteks lingkungannya. Orang terus-menerus bertukar pesan di dalam lingkungannya, dan karenanya mengubah lingkungan dan dirinya.

d).  Pendekatan bauran kultur.

Periset harus mengalihkan perhatiannya dari sudut pandang tradisional tentang kultural ke pandangan baru tentang bauran kultural, zona kontrak sistem yang saling terkoneksi, dan identitas kulural majemuk.

            Untuk psikologi lintas kultural menekankan aktivitas manusia, proses interaksi individu dengan lingkungannya yang mengandung suatu maksud. Motivasi, emosi, pikiran, dan reaksi manusia tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia yang

(1) ditentukan oleh kondisi individu, sosioekonomi, lingkungan, politik, kultural, juga

(2) perubahan kondisi-kondisi ini.

 

4.    Etnosentrisme dan Multikulturalisme

Etnosentrisme adalah pendapat yang mendukung penilaian terhadap etnis, kebangsaan, dan kelompok kultural lain dari sudut pandang etnis. Multikulturalisme adalah pendapat yang mendorong pengakuan kesetaraan atas semua kelompok kultural dan kebangsaan dan mempromosika ide bahwa berbagai macam kelompok kultural memiliki hak untuk mengikuti jalan perkembangan sendiri dan memiliki aktivitas, nilai, dan norma masing-masing.

 

 

1.      Pengertian Aktivitas Komunikasi

 

     Aktivitas menurut kamus besar Indonesia adalah keaktifan, kegiatan-kegiatan, kesibukan, atau bisa juga berarti kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan tiap bagian dalam suatu organisasi atau Lembaga. Atau dapat diartikan sebagai segala bentuk keaktifan dan kegiatan. Ada dua jenis aktivitas: eksternal dan internal, (eksternal, jika operasi manusia terhadap objek-objek yang menggunakan lengan, tangan, jari-jari, dan kaki) maka pada internal menggunakan Tindakan mental dalam bentuk gambaran-gambaran dinamis.

 

Seseorang yang ingin mendalami ilmu agama dan ingin membangun atau berinteraksi dengan masyarakat yang Islami, tentu ia harus melakukan aktivitas yang membantu tercapainya keinginan tersebut. Seperti membaca buku-buku keagamaan, mengikuti pengajian-pengajian atau melakukan diskusi-diskusi tentang keagamaan dan kemasyarakatan.

 

2.        Komunikasi Verbal dan Non Verbal

 

       a.  Teori Komunikasi Verbal

          Komunikasi verbal yaitu komunikasi yang menggerakkan symbol-simbol atau kata-kata, baik secara lisan maupun secara tulisan. Symbol verbal Bahasa merupakan pencapaian manusia paling impresif. Menurut Paulette J. Thomas, komunikasi verbal adalah penyampaian dan penerimaan pesan dengan menggunakan Bahasa lisan dan tulisan. Lambing verbal adalah semua lambing yang digukan untuk menjelaskan pesan-pesan dengan memanfaatkan kata-kata (bahasa). Dalam proses belajar mengajar komunikasi verbal dapat dilangungkan dengan kata-kata, seperti: bercerita, berdiskusi, dan lain-lain, dapat juga dilangsungkan dengan menggunakan tulisan surat, buku, majalah, koran dan lain-lain.

 

Komunikasi verbal memiliki karakteristik antara lain:

 

1. Pesan dalam komunikasi dikirimkan oleh sumber dengan sengaja dan diterima oleh sumber dengan senngaja dan diterima pesan secara sengaja pula.

2. Komunikasi verbal bersifat intensional dan harus dibagi diantara orang-orang yang terlibat dalam tindak komunikasi

3. Bahasa dalam komunikasi verbal bersifat lebih spesifik, artinya dapat dipakai untuk membedakan hal-hal yang sama dalam sebuah cara yang berubah

4. Komunikasi verbal lebih eksplisit, artinya isyarat-isyarat verbal dapat didefinisikan melalui sebuah kamus eksplisit

5. Kata-kata dalam Komunikasi verbal memiliki titik awal dan titik akhir yang pasti

6. Komunikasi verbal sangat terstruktur dan mempunyai prinsip-prinsip, hukum atau aturan tata Bahasa yang dibuat oleh manusia

7. Bahasa dalam  komunikasi verbal sudah diatur pemberian maknanya.

8.      Komunikasi verbal dapat mengekspresikan peristiwa komunikasi dimasa lalu atau dimasa sekarang, serta dapat menciptakan pemahaman mengenai konteks dimana interaksi tersebut terjadi.

 

b.      Komunikasi Non Verbal 

Komunikasi Non Verbal adalah penpiptaan dan pertukaran pesan dengan menggunakan gerak tubuh, sikap tubuh, vokal bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan sentuhan. Atau dapat juga dikatakan bahwa semua kejadian di sekililing situasi komunikasi yang tidak berhubungan  dengan kata-kata yang diucapkan atau dituliskan. Komunikasi Non Verbal sebagai proses pertukarab pikiran dan gagasan dimana pesan yang disampaikan berupa isyarat ekspresi wajah, pandangan mata, Gerakan tubuh, sentuhan, dan diam. Dapat diartikan juga sebagai komunikasi tanpa kata-kata.

 

G.    HAMBATAN DALAM PROSES KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

1.      Pengertian Hambatan 

Menurut Badudu Zain (1994:489), Hambatan dapat diartikan  sebagai halangan atau rintangan yang dialami. Begitu juga dalam komunikasi antar budaya, disini mengacu pada perilaku, kepercayaan, dan adat istiadat, dengan adanya perbedaan budaya tersebut tentunya akan   mempengaruhi persepsi, cara berpikir, juga baahasa yang digunakan. Menurut Chaney dan Martin dikutip oleh Sanjaya (2013), mengungkapkan bahwa hambtan kommunikasi adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif karena adanya perbedaan budaya antara komunikator dan komunikan.

 

2.    Hambatan Proses Komunikasi Antar Budaya

Secara garis besar memang hambatan dalam proses komunikasi antar budaya yaitu seperti salah satu contohnya yaitu ada noise saat berkomunikasi karena perbedaan Bahasa, namun nyatanya ada hal-hal lain yang juga bisa menghambat proses komunikasi antar budaya ini. Terutama hambatan  ini bisa muncul saat kita berperilaku dan bersikap abai. Berikut ini merupakan beberapa hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi antar budaya.

Adapun beberapa hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi antar budaya antara lain:

a.       Racialism (Rasilialisme)

 Jika kita mengabaikan perilaku ini maka kita juga mengabaikan adanya perbedaan antara kita dan kelompok secara cultural berbeda.

b.      Sterotyping (Stereotype)

Menyamaratakan segala perbedaan budaya, dan tidak mampu mengidentifikasikan perbedaan atau keunikan budaya lain. Prasangka sosial bergandengan dengan stereotip yang merupakan gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang atau golongan lain yang bercorak negative (Gerungan, 1983: 169), bila kita mengabaikan perbedaan ini, kita akan terjebak dalam sebuah asumsi bahwa semua orang yang ada didalam satu kelompook itu sama. Padahal dalam setiap kultur terdapat banyak subkultur  yang bisa berbeda satu sama lain.  

c.       Persepsi atau prasangka

Menurut Sears, Prasangka berkaitan dengan persepsi. Apabila seseorang atau sekelompok rang memiliki pengalaman yang buruk terhadap orang atau sekelompok orang lainnya, maka pada dirinya akan timbul suatu persepsi yang kurang baik. Proses yang dilakukan untuk mencoba mengetahui atau memahami orang lain yang mempengaruhi makna dalam suatu pesan tersebut. Pada komunikasi antar budaya dalam suatu pesan itu pasti akan membentuk sebuah makna yang berbeda-beda dari yang menerimanya.

d. Norma dan nilai kebudayaan

Dalam suatu budaya dipengaruhi nilai dan norma yang berbeda. Nilai dapat bersifat eksplisit (dinyatakan sceara terbuka dalam penilaian nilai) atau secara implisit disimpulkan dari perilaku nonverbal dan dapat dipegang atau dilihat secara individual sebagai bagian dari pola atau system budaya.

e.  Etnosentrisme

Fanatisme yang berlebihan terhadap pendapat pribadi dan golonga sehingaa apriori beranggapan menolak pendapat orang lain diluar kelompoknya.  Sikap keyakinan atau kepercayaan budaya sendiri merasa lebih unnggul daripada budaya yang lain dan menganggap budaya orang lain cenderung tidak unggul. Akibat dari etnosentrisme ini kita jadi menilai perbedaan secara negatif, dan dapat membuat adanya hambatan dalm proses komunikasi antar budaya.

f.  Culture Shock

Bisa terjadi karena reaksi psikologis seseorang karena berada dalam daerah dengan budaya baru. Sebagian dari Culture Shock ini timbul karena perasaan terasing. Menonjol, dan berbeda dari yang lain. Bila kita kurang mengenal adat kebiasaan masyarakat yang baru, kita tidak dapat berkomunikasi secara efektif.

 

Komunikasi lintas budaya adalah, komunikasi yang dilakukan untuk segala macam budaya. Sudah diketahui bahwa di dunia ini banyak sekali ragam budaya. Kita ambil contoh Indonesia saja. Di negri ini, ratusan macam budaya berbeda. Kebanyakan kegagalan berkomunikasi adalah akibat faktor ketidak pahaman akan budaya. Sementara itu Noise yang paling berpengaruh dalam proses komunikasi adalah budaya. Komunikasi lintas budaya mencoba untuk melakukan pendekatan pendekatan dengan berbagai cara, seperti psikologis, sosiologi, kritik budaya, dialog budaya dan lain lain. Di sini komunikasi lintas budaya mencoba untuk memberikan pemahaman bersama dan mencoba untuk mengerti akan keragaman budaya di Indonesia. Dari sini akan terbentuk suatu pengertian bersama akan adanya perbedaan budaya. Komunikasi lintas budaya mencoba untuk memahami akan keragaman tersebut. Sehingga benturan-benturan kebudayaan atau disintregasi social tidak akan terjadi (Mulyana, 2001. 12).

Menurut teori komunikasi antar budaya, Edward T. Hall, komunikasi dan budaya memiliki hubungan sangat erat. Menurutnya, communication is culture and culture is communication. Hall terlebih dahulu membedakan budaya konteks tinggi (high context culture ) dengan budaya konteks rendah (low context culture). Budaya konteks rendah ditandai dengan komunikasi konteks rendah seperti pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung lugas dan berterus terang. Para penganut budaya ini mengatakan bahwa apa yang mereka maksudkan (the say what they mean) adalah apa yang mereka katakan (they mean what they say). Sebaliknya, budaya konteks tinggi, seperti kebanyakan pesan yang bersifat implisit, tidak langsung dan tidak terus terang, pesan yang sebenarnya mungkin tersembunyi dibalik perilaku nonverbal, intonasi suara, gerakan tangan, pemahaman lebih kontekstual, lebih ramah dan toleran terhadap budaya masyarakat. Terkadang pernyataan verbal bisa bertentangan dengan pesan non-verbal. Manusia yang terbiasa berbudaya konteks tinggi lebih terampil membaca perilaku non-verbal dan juga akan mampu melakukan hal yang sama. Watak komunikasi konteks tinggi yaitu tahan lama, lamban berubah dan mengikat kelompok penggunanya. Orang-orang berbudaya konteks tinggi lebih menyadari proses penyaringan budaya daripada orang-orang berbudaya konteks rendah. Dalam kaitannya dengan aktivitas dakwah, pengkajiannya dengan pendekatan komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Bagaimana para da’i melakukan tugasnya sebagai pengayom masyarakat, penyelamat masyarakat dan memajukan masyarakat dengan pendekatanpendekatan yang lebih dekat dan ramah dengan budaya yang dianut masyarakat setempat (Aripuddin, 2011. 16).

2.      Kearifan Dakwah

Dalam kaitannya dengan ilmu dakwah adalah pada tujuan dan fungsi dari komunikasi antar budaya itu sendiri. Tujuan studi dari komunikasi antar budaya menurut Litvin bersifat kognitif dan afektif, yaitu untuk mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri (Mulayana, 1998. xi). Tentunya dengan terlebih dahulu kita perluas dan perdalam pemahaman kita terhadap kebudayaan seseorang tersebut. Selanjutnya dalam segi fungsi, seperti yang kita ketahui sebelumnya, ilmu dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang upaya mengajak umat manusia kepada jalan Allah, dibangun dan dikembangkan dengan metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka memahami, memprediksi (prediction), menjelaskan (explanation) dan mengontrol (control) berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENUTUP

 

A.    KESIMPULAN

Dakwah antar budaya yaitu pertukaran pesan dakwah yang dilakukan oleh seorang da’i kepada sasaran dakwah (mad’u) yang memiliki kebudayaan yang berbeda dalam konsep amar  ma’ruf nahi munkar. Ketika da’i berinteraksi dengan mad’unya maka akan terbentuk konteks dakwah, konteks ini akan mempertimbangkan aspek-aspek budaya menjadi bidang bentuk kegiatan dari tablig Islam. Wilayah yang memiliki masyarakat multikultur dan multietnis mempunyai tantangan untuk mengakomodasi perbedaan kebangsaan dan etnis secara stabil dan dapat dipertahankan secara moral. Tantangan multikultur ini juga menjadi tantangan dalam aktivitas dakwah Islam dengan cara mengubah dan menata kembali cara-cara serta orientasi dakwah. 

Konsep  umatan wahidah  (ketunggalan umat) dalam isyarat Al-Quran mesti dipahami sebagai ketunggalan dalam iman dan peradaban. Proses terbentuknya masyarakat beradab sedang terjadi dan akan terus berlangsung, yaitu melalui terjadinya pertukaran budaya manusia melalui kemajuan  sains  dan teknologi komunikasi, dalam rangka globalisasi. Strategi mengenali budaya setempat merupakan enterpoint (titik pembuka) terhadap tindakan-tindakan dan kebijakan proses transformasi nilai-nilai Islam.

 

 

 

__________. Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta. Pustaka Belajar. 2003.

Ali Aziz, Moh. Ilmu Dakwah. Surabaya: Kencana, 2004.

Amin, Syamsul Munir. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: Amzah, 2008.

Aripudin, Acep. Dakwah AntarBudaya. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012.

Aw. Suranto. Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2010.

L Tubbs, Stewart  – Sylvia Moss, Human Communication. Bandung. Remaja Rosda Karya. 1996.

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Kebinekaan (Tafsir Al-Qur’an    Tematik). Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2011.

Liliweri, Alo. Gatra-gatra Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. 2001.

Nasrullah, Rulli. Komunikasi Antar Budaya. Jakarta: Kencana, 2012.

Puspianto, Alim. “Dakwah Antar Budaya Di Era Cyber” dalam Jurnal Prodi    Komunikasi Penyiaran Islam (Vol. VIII No. 2. 2019), 99-100.

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah Vol. 13. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Syarifah, Masykurotus. “Budaya dan Kearifan Dakwah” dalam Jurnal Dakwah dan Komunikasi (Vol. I No. 1. 2016), 37.

Syarifah, Masykurotus. Budaya dan Kearifan Dakwah. Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Vol. 1, No. 1. 2016.

Zaprulkhan. “Dakwah Multikultural” dalam Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan (Vol. 8 No. 1. 2017), 175-176.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Kampung Wisata di Kampung Lawas Maspati Surabaya

Tantangan Jurnalis di Istana Negara Workshop Jurnalistik: Proses Produksi dan Desain Media Cetak