BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH
BUDAYA & KEARIFAN DAKWAH
Oleh: Alfina
Nurhayati
Mahasiswi KPI A2 Semester
4
A. Pengertian
Budaya dan Kearifan Dakwah
Komunikasi
lintas budaya adalah, komunikasi yang dilakukan untuk segala macam budaya.
Sudah diketahui bahwa di dunia ini banyak sekali ragam budaya. Kita ambil
contoh Indonesia saja. Di negri ini, ratusan macam budaya berbeda. Kebanyakan
kegagalan berkomunikasi adalah akibat faktor ketidak pahaman akan budaya.
Sementara itu Noise yang paling berpengaruh dalam proses komunikasi adalah
budaya. Komunikasi lintas budaya mencoba untuk melakukan pendekatan pendekatan
dengan berbagai cara, seperti psikologis, sosiologi, kritik budaya, dialog
budaya dan lain lain. Di sini komunikasi lintas budaya mencoba untuk memberikan
pemahaman bersama dan mencoba untuk mengerti akan keragaman budaya di
Indonesia. Dari sini akan terbentuk suatu pengertian bersama akan adanya
perbedaan budaya. Komunikasi lintas budaya mencoba untuk memahami akan
keragaman tersebut. Sehingga benturan-benturan kebudayaan atau disintregasi
social tidak akan terjadi (Mulyana, 2001. 12).
Menurut
teori komunikasi antar budaya, Edward T. Hall, komunikasi dan budaya memiliki
hubungan sangat erat. Menurutnya, communication is culture and culture is
communication. Hall terlebih dahulu membedakan budaya konteks tinggi (high
context culture ) dengan budaya konteks rendah (low context culture). Budaya
konteks rendah ditandai dengan komunikasi konteks rendah seperti pesan verbal
dan eksplisit, gaya bicara langsung lugas dan berterus terang. Para penganut
budaya ini mengatakan bahwa apa yang mereka maksudkan (the say what they mean)
adalah apa yang mereka katakan (they mean what they say). Sebaliknya, budaya
konteks tinggi, seperti kebanyakan pesan yang bersifat implisit, tidak langsung
dan tidak terus terang, pesan yang sebenarnya mungkin tersembunyi dibalik
perilaku nonverbal, intonasi suara, gerakan tangan, pemahaman lebih
kontekstual, lebih ramah dan toleran terhadap budaya masyarakat. Terkadang
pernyataan verbal bisa bertentangan dengan pesan non-verbal. Manusia yang
terbiasa berbudaya konteks tinggi lebih terampil membaca perilaku non-verbal
dan juga akan mampu melakukan hal yang sama. Watak komunikasi konteks tinggi
yaitu tahan lama, lamban berubah dan mengikat kelompok penggunanya. Orang-orang
berbudaya konteks tinggi lebih menyadari proses penyaringan budaya daripada
orang-orang berbudaya konteks rendah. Dalam kaitannya dengan aktivitas dakwah,
pengkajiannya dengan pendekatan komunikasi konteks tinggi dan komunikasi
konteks rendah. Bagaimana para da’i melakukan tugasnya sebagai pengayom
masyarakat, penyelamat masyarakat dan memajukan masyarakat dengan
pendekatanpendekatan yang lebih dekat dan ramah dengan budaya yang dianut
masyarakat setempat (Aripuddin, 2011. 16).
B. Kearifan
Dakwah
Dalam kaitannya
dengan ilmu dakwah adalah pada tujuan dan fungsi dari komunikasi antar budaya
itu sendiri. Tujuan studi dari komunikasi antar budaya menurut Litvin bersifat
kognitif dan afektif, yaitu untuk mempelajari keterampilan komunikasi yang
membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri (Mulayana,
1998. xi). Tentunya dengan terlebih dahulu kita perluas dan perdalam pemahaman
kita terhadap kebudayaan seseorang tersebut. Selanjutnya dalam segi fungsi, seperti
yang kita ketahui sebelumnya, ilmu dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang
upaya mengajak umat manusia kepada jalan Allah, dibangun dan dikembangkan
dengan metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka memahami,
memprediksi (prediction), menjelaskan (explanation) dan mengontrol (control)
berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah.
DAFTAR PUSTAKA
Syarifah, Masykurotus. Budaya
dan Kearifan Dakwah. Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Vol. 1, No. 1. 2016.
Komentar
Posting Komentar