DAKWAH DALAM KAJIAN POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
DAKWAH
DALAM KAJIAN POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Oleh:
Alfina Nurhayati
Mahasiswi
KPI Semester 4
A. Pengertian
Pola Komunikasi Lintas Budaya
Pola
komunikasi merupakan serangkaian dua kata. Karena keduanya mempunyai
keterkaitan makna sehingga mendukung dengan makna lainnya. Maka lebih jelasnya
dua kata tersebut akan diuraikan tentang penjelasannya masing-masing. Kata
“pola” dalam kamus besar Bahasa Indonesia artinya bentuk atau sistem, cara atau
bentuk (struktur) yang tetap, yang mana pola dapat dikatakan contoh atau
cetakan.
Pola
dapat dikatakan juga dengan model, yaitu cara untuk menunjukkan sebuah objek
yang mengandung kompleksitas proses didalamnya dan hubungan antara unsur-unsur
pendukungnya.Menurut Little Jhon, model dapat diterapkan pada setiap
representasi simbolik dari suatu benda. Sebelum kita mengetahui bentuk sebuah
pola komunikasi apa yang diterapkan dalam sebuah komunitas baik secara individu
maupun
organisasi,
maka kita perlu melihat proses komunikasinya, karena pola komunikasi tersebut
terlahir dari berbagai proses komunikasi sehingga keduanya tidak dapat
dipisahkan, karena menjadi sebuah kesatuan.
Menurut Onong Uchjana Effendy, proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yaitu primer dan sekunder.
1. Proses Komunikasi Primer
Proses
penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan
lambang (simbol) sebagai media. komunikator kepada komunikan. Pertama-tama
komunikator menyandi (encode) pesan yang disampaikan kepada komunikan, ini
berarti ia memformulasikan pikiran atau perasaannya ke dalam bahasa yang diperkirakan
akan dimengerti oleh komunikan.
2. Proses Komunikasi Sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah mamakai lambang sebagai media penama. Seperti yang telah diterangkan di atas pada umumnya bahasa yang banyak digunakan dalam komunikasi karena bahasa sebagai lambang mampu mentransmisikan pikiran, ide, pendapat dan sebagainya, baik mengenai hal yang abstrak maupun yang konkrit.
B. Prinsip Komunikasi Lintas Budaya
1. Relativitas Bahasa
Menurut Benjamin Lee
whorf & Edward sapir, bahasa mempengaruhi pemikiran perilaku, karakteristik
bahasa mempengaruhi proses kognitif seseorang. Karena bahasa-bahasa di dunia
sangat berbeda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya. Maka orang
yang menggunakan bahasa yang berbeda
akan memandang dan berpikir tentang dunia dalam cara berbeda.
2. Bahasa sebagai cermin budaya.
Makin besar perbedaan
budaya, makin besar perbedaan komunikasi baik dalam bahasa verbal atau non
verbal. Artinya semakin sulit komunikasi dilakukan. Oleh karena itu, harus peka
terhadap hambatan komunikasi lintas budaya.
3. Mengurangi
ketidakpastian.
Makin besar budaya makin besar
ketidakpastian dan ambiguitas dalam komunikasi.
4. Kesadaran diri dari
perbedaan antar budaya.
Makin besar perbedaan
budaya, makin besar kesadaran diri para partisipan komunikasi sehingga menimbulkan
konsekuensi positif dan negatif.
a. Positif, membuat
waspada, mencegah mengatakan hal yang tidak patut.
b. Negatif, terlalu
berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.
5. Interaksi awal dan
perbedaan antar budaya.
Interaksi awal yang tidak
efektif dalam komunikasi lintas budaya akan berangsur berkurang seiring
bertambahnya keakraban, untuk itu cobalah hindari menilai orang lain secara
tergesa-gesa dan permanen apalagi hanya didasarkan pada informasi yang
terbatas.
6. Memaksimalkan hasil interaksi.
a. Orang akan berinteraksi dengan mereka
yang memberikan hasil yang positif.
b. Berusaha memperoleh keuntungan.
c. Membuat prediksi tentang perilaku
seseorang yang akan memberikan hasil positif.
d. Seseorang harus melibatkan hasil yang
positif yang melibatkan diri dan meningkatkan intensitas komunikasi.
C.
Identifikasi Kajian Psikologis Lintas
Budaya.
Psikologi
lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya.
Sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh
kekuatan sosial budaya. Kajian ini mencakup suatu pokok persoalan yang
bersumber dari dua budaya atau lebih dengan menggunakan metode pengukuran yang
ekuivalen untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori
psikologis umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi
universal.
Adapun
model pendekatan yang dipelari yaitu:
1. Pendekatan
evolusi,
Model teoritis yang mengeksplorasi
bagaimana faktor evolusi memengaruhi perilaku manusia, dan karenanya meletakkan
dasar natural bagi kultur manusia.
2. Pendekatan
sosial
Fokus pada struktur
sosial yang luas yang memengaruhi masyarakat secara keseluruhan dan
individunya.
3. Pendekatan
Ekokultural.
Individu tidak bisa
dipisahkan dari konteks lingkungannya. Orang terus-menerus bertukar pesan di
dalam lingkungannya, dan karenanya mengubah lingkungan dan dirinya.
4. Pendekatan
bauran kultur.
Periset harus mengalihkan
perhatiannya dari sudut pandang tradisional tentang kultural ke pandangan baru tentang
bauran kultural, zona kontrak sistem yang saling terkoneksi, dan identitas
kulural majemuk.
Untuk
psikologi lintas kultural menekankan aktivitas manusia, proses interaksi
individu dengan lingkungannya yang mengandung suatu maksud. Motivasi, emosi,
pikiran, dan reaksi manusia tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia yang
(1)
ditentukan oleh kondisi individu, sosioekonomi, lingkungan, politik, kultural,
juga
(2)
perubahan kondisi-kondisi ini.
D.
Etnosentrisme dan Multikulturalisme.
Etnosentrisme
adalah pendapat yang mendukung penilaian terhadap etnis, kebangsaan, dan
kelompok kultural lain dari sudut pandang etnis. Multikulturalisme adalah
pendapat yang mendorong pengakuan kesetaraan atas semua kelompok kultural dan
kebangsaan dan mempromosika ide bahwa berbagai macam kelompok kultural memiliki
hak untuk mengikuti jalan perkembangan sendiri dan memiliki aktivitas, nilai,
dan norma masing-masing.
E.
Kesimpulan
Dalam
mempelajari komunikasi lintas budaya perlu memahami proses komunikasi terlebih
dahulu, proses komunikasi terbagi menjadi dua yaitu prose komunikasi primer dan
proses komunikasi sekunder. Selain itu, pendekatan
diperlukan dalam melakukan dakwah komunikasi lintas budaya, agar komunikasi
antara komunikan dan komunikator berjalan dengan lancar sesuai dengan tujuan
masing-masing.
bagus
BalasHapus