TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

 

TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

 

Oleh: Alfina Nurhayati

Mahasiswa KPI A2 semsester 4

 

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Komunikasi lintas budaya lebih menekankan perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi di antara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan. Pada awalnya studi lintas budaya berasal dari perspektif antropologi sosial dan budaya sehingga dia lebih bersifat depth description, yakni penggambaran yang mendalam tentang perilaku komunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu.

 

A.    Fungsi Komunikasi Antarbudaya

 

Dalam proses komunikasi antarbudaya ini, terdapat fungsi dan tujuan di dalamnya. Sebagaimana dinyatakan Alo Liliweri, yaitu fungsi komunikasi antar budaya dibagi menjadi 2 macam yaitu fungsi pribadi dan fungus sosial, antara lain:

1. Fungsi Pribadi

Fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu.

a.       Menyatakan Identitas Sosial, dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial.

b.       Menyatakan Intergrasi Sosial, menerima kesatuan dan persatuan antar pribadi, antar kelompok. Namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Dalam kasus komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi.

c.       Menambah Pengetahuan, komunikasi antarpribadi maupun komunikasi antarbudaya menambah pengetahuan bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing.

d.       Melepaskan Diri atau Jalan Keluar, berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencari jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi. Pilihan komunikasi seperti itu dinamakan komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan komplementer dan hubungan yang simetris.

2. Fungsi Sosial

a. Pengawasan

Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan “perkembangan” tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarluaskan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.  

b. Menjembatani

Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama

c.  Sosialisasi nilai

Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.

 

d. Menghibur

 

Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya untuk mewarnai dalam kegiatan komunikasi antar budaya.

 

B.     Tujuan Komunikasi Antarbudaya

 

Tujuan dari komunikasi antarbudaya menurut Suranto Aw adalah untuk mengantarkan kepada suatu kompetensi pengetahuan bahwa perbedaan latar belakang sosial budaya dapat mengakibatkan kurang efektifnya proses komunikasi. Tidak hanya menekankan bagaimana orang yang saling berbeda latar belakang sosial budaya dalam berbicara, tetapi bagaimana mereka bertindak antarorang dan bagaimana mereka mengikuti aturan-aturan terselubung yang mengatur perilaku anggota masyarakat yang memiliki aturan nilai sosial dan budaya saling beda.  Tujuan tersebut antara lain;

 

1.      Memahami bagaimana perbedaan latar belakang budaya mempengaruhi praktik komunikasi.

2.      Mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang muncul dalam komunikasi antarbudaya.

3.      Meningkatkan keterampilan verbal dan nonverbal dalam berkomunikasi.

4.      Menjadikan komunikator mampu berkomunikasi efektif.

 

 

 

C.     Peranan Komunikasi Antarbudaya

Komunikasi antar budaya sering terdengar sulit untuk dilakukan. Karena kebudayaan atau pola hidup mereka yang berbeda akan membuat kesalahpahaman di antara kedua individu. Sehingga, perlu adanya sesuatu yang dapat menurunkan tingkat kesalahpahaman di antara kedua individu agar tidak terjadi pertikaian. Hal itu dapat ditemukan pada bahasa baik verbal maupun nonverbal.

Peranan bahasa saat ini merupakan alat yang sangat berperan penting dalam komunikasi antarbudaya. Contohnya, orang pesisir yang memiliki pola hidup keras kerap kali berbicara dengan kencang, sehingga dapat membuat orang salah mengartikan. Dikiranya orang tersebut sedang marah-marah, padahal sebenarnya tidak. Sehingga, keberadaan bahasa di sinilah diperlukan. Dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa kebangsaan, maka kesalahpahaman akan menurun dan perlahan menghilang. Karena, bahasa sendiri yang dapat memilah mana marah, mana senang, dan mana yang sedih. Dan juga, bahasa merupakan simbolik dari rasa.

D.    Kesimpulan

Dakwah sebagai satu variabel dan problematika kehidupan sosial maka keberadaan dakwah dalam suatu komunikasi dapat dilihat dari sisi dan peran dalam mempengaruhi perubahan sosial. Dakwah dalam komunikasi anntarbudaya bertujuan dan berfungsi untuk dapat mencegah terjadinya konflik keagamaan dalam masyarakat. Peran dakwah yang menyampaikan nilai ketuhanan sejatinya harus dipahami sebagai wujud dialog internal umat beragama serta sebagai upaya membangun kesadaran demi terciptanya  kerukunan antar umat beragama

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Aw. Suranto. Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2010.

L Tubbs, Stewart  – Sylvia Moss, Human Communication. Bandung. Remaja Rosda Karya. 1996.

 

Liliweri, Alo. Gatra-gatra Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. 2001.

 

__________. Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta. Pustaka Belajar. 2003.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Kampung Wisata di Kampung Lawas Maspati Surabaya

Tantangan Jurnalis di Istana Negara Workshop Jurnalistik: Proses Produksi dan Desain Media Cetak