DAKWAH ANTAR BUDAYA
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP DAKWAH ANTAR BUDAYA
Oleh: Alfina Nurhayati
Mahasiswi KPI A2 Semester 4
Dakwah merupakan kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang terutama
umat Islam yang dituntut untuk menjadi orang baik dan menjadi penyebar kebaikan
dan dakwah menjadi salah satu kewajiban seorang Muslim, namun hal ini tidak
mudah dilakukan oleh semua orang. Pendakwah wajib memiliki bekal ilmu yang
bersumber dari Al-Qur’an dan hadist. Pendakwah juga dituntut untuk bisa
menyebarkan kepada banyak orang meskipun memiliki perbedaan ras, budaya, dan
bahasa.
Perbedaan budaya menjadi salah satu faktor kesulitan bagi da’i.
Oleh karena itu, da’i harus mengetahui perbedaan tersebut agar tidak
menimbulkan konflik dan gesekan antar budaya yang menjadikan proses dakwah berjalan
dengan lancar.
A.
Pengertian
Dakwah Antar Budaya
Ditinjau dari
segi etimologis, dakwah berasal dari bahasa arab “Da’wah” yang terdiri
dari kata da’a, yad’u dan da’watan yang berarti panggilan,
ajakan, seruan. Sedangkan secara
terminologis, Syaikh Ali Mahfudz dalam kitabnya Hidayat Al- Mursyidin
mendefinisikan dakwah sebagai motifasi manusia untuk berbuat kebajikan,
mengikuti petunjuk, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, agar
mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan menurut Toha Yahya Oemar, beliau mengatakan bahwa dakwah
adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai
dengan perintah tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.
Adapun budaya
berarti suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya pada dasarnya
merupakan nilai nilai yang muncul dari proses interaksi antar individu. Nilai
nilai ini diakui, baik secara langsung maupun tidak, seiring dengan waktu yang
dilalui tersebut. Bahkan kadang sebuah nilai tersebut berlangsung dibawah alam
bawah sadar individu dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dakwah antar
budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar
da’i (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab
terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah
dapat tersampaikan, dengan tetap terpeliharanya situasi damai (Aripudin, 2012.
25). Dakwah antar budaya juga bisa diartikan sebagai seruan pesan-pesan Islam
yang disampaikan oleh seorang da‟i
kepada seseorang atau kelompok masyarakat tertentu yang berbeda latar
belakang tradisi dan budayanya. Dengan keberhasilan dakwah antarbudaya sangat dipengaruhi oleh seberapa besar
kemampuan seorang da‟i dalam melakukan pendekatan-pendekatan budaya dimana
kegiatan dakwah itu dilakukan. Karena fakta membuktikan bahwa salah satu
strategi dakwah yang sedang berkembang dan dianggap lebih ramah adalah strategi
dakwah antarbudaya. Dimana dakwah yang damai dengan
mengedepankan pendekatan-pendekatan budaya senantiasa menjadi pegangan setiap
da‟i. Sehingga kegiatan dakwah yang dilakukan tidak menimbulkan gesekan dan
pertentangan dari masyarakat yang menjadi mad’unya.
Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah mengajak
seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama Islam dan perilaku Islami
sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di masyarakat. Hakikat dakwah antar
budaya itu bagaimana kita dalam berdakwah, menggunakan budaya sebagai materi,
metode, alat, dan strategi sesuai dengan kondisi budaya sasaran dakwah (mad’u).
Karena setiap orang, setiap tempat wilayah dan lingkungan mempunyai kondisi
sosial budaya yang berbeda-beda. Maka dalam pendekatannya pun berbeda pula.
Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu
dakwah yang meliputi :
1. Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i
dengan mad’u yang berbeda latarbelakang budaya yang dimilikinya dalam
perjalanan dakwah para da’i.
2. Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya
yang berhubungan dengan unsur da’i, materi, metode, media, mad’u dan dimensi
ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.
3. Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik
posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka
metodologi dalam antropologi.
4. Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh
masingmasing etnis.
5. Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya
dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi
jati diri budaya masing-masing (Aripudin, 2012. 55-56 ).
C.
Kesimpulan
Dakwah antar budaya yaitu pertukaran pesan dakwah yang dilakukan
oleh seorang da’i kepada sasaran dakwah (mad’u) yang memiliki kebudayaan yang
berbeda dalam konsep amar ma’ruf nahi
munkar. Ketika da’i berinteraksi dengan mad’unya maka akan terbentuk konteks
dakwah, konteks ini akan mempertimbangkan aspek-aspek budaya menjadi bidang
bentuk kegiatan dari tablig Islam. Wilayah yang memiliki masyarakat multikultur
dan multietnis mempunyai tantangan untuk mengakomodasi perbedaan kebangsaan dan
etnis secara stabil dan dapat dipertahankan secara moral. Tantangan multikultur
ini juga menjadi tantangan dalam aktivitas dakwah Islam dengan cara mengubah
dan menata kembali cara-cara serta orientasi dakwah.
Konsep umatan wahidah (ketunggalan umat) dalam isyarat Al-Quran
mesti dipahami sebagai ketunggalan dalam iman dan peradaban. Proses terbentuknya
masyarakat beradab sedang terjadi dan akan terus berlangsung, yaitu melalui
terjadinya pertukaran budaya manusia melalui kemajuan sains
dan teknologi komunikasi, dalam rangka globalisasi. Strategi mengenali
budaya setempat merupakan enterpoint (titik pembuka) terhadap tindakan-tindakan
dan kebijakan proses transformasi nilai-nilai Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Aziz, Moh. Ilmu Dakwah. Surabaya: Kencana, 2004.
Amin, Syamsul Munir. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: Amzah, 2008.
Aripudin, Acep. Dakwah AntarBudaya. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012.
Nasrullah, Rulli. Komunikasi Antar Budaya. Jakarta: Kencana, 2012.
Puspianto, Alim. “Dakwah Antar Budaya Di Era Cyber” dalam Jurnal Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (Vol. VIII No. 2. 2019), 99-100.
Syarifah,
Masykurotus. “Budaya dan Kearifan Dakwah” dalam Jurnal Dakwah dan
Komunikasi (Vol. I No. 1. 2016), 37.
Komentar
Posting Komentar